Mengenal thoriqoh al-mutabaroh

Dalam tasawwuf seringkali
dikenal istilah Thoriqoh, yang
berarti jalan, yakni jalan untuk
mencapai Ridlo Allah. Dengan
pengertian ini bisa digambarkan,
adanya kemungkinan banyak
jalan, sehingga sebagian sufi
menyatakan, At-turuk biadadi
anfasil mahluk, yang artinya jalan
menuju Allah itu sebanyak
nafasnya mahluk, aneka ragam
dan bermacam macam. Kendati
demikian orang yang hendak
menempuh jalan itu haruslah
berhati hati, karena dinyatakan
pula, Faminha Mardudah
waminha maqbulah, yang artinya
dari sekian banyak jalan itu, ada
yang sah dan ada yang tidak sah,
ada yang diterima dan ada yang
tidak diterima. Yang dalam istilah
ahli Thoriqoh lazim dikenal
dengan ungkapan, Mu’tabaroh.
Wa ghoiru Mu’tabaroh.
KH. Dzikron Abdullah (pengasuh
pondok…../dari daerah ….)
menjelaskan, awalnya Thoriqoh
itu dari Nabi yang menerima
wahyu dari Allah, melalui
malaikat Jibril. Jadi, semua
Thoriqoh yang Mu’tabaroh itu,
sanad(silsilah)-nya muttashil
(bersambung) sampai kepada
Nabi. Kalau suatu Thoriqoh
sanadnya tidak muttashil sampai
kepada Nabi bisa disebut
Thoriqoh ghoiru mu’tabaroh.
Barometer lain untuk
menentukan ke-mu’tabaroh-an
suatu Thoriqoh adalah
pelaksanaan syari’at. Dalam
semua Thoriqoh Mu’tabaroh
syariat dilaksanakan secara
benar dan ketat.
Diantara Thoriqoh Mu’tabaroh
itu adalah :
Thoriqoh Syathariyah pertama
kali digagas oleh Abdullah
Syathar (w.1429 M). Thoriqoh
Syathariyah berkembang luas ke
Tanah Suci (Mekah dan Medinah)
dibawa oleh Syekh Ahmad Al-
Qusyasi (w.1661/1082) dan
Syekh Ibrahim al-Kurani
(w.1689/1101). Dan dua ulama
ini diteruskan oleh Syekh ‘Abd al-
Rauf al-Sinkili ke Nusantara,
kemudian dikembangkan oleh
muridnya Syekh Burhan al-Din ke
Minangkabau. Thoriqoh
Syathariyah sesudah Syekh
Burhan al-Din, berkembang pada
4 (empat) kelompok, yaitu;
Pertama silsilah yang diterima
dari Imam Maulana. Kedua,
silsilah yang dibuat oleh Tuan
Kuning Syahril Lutan Tanjung
Medan Ulakan. Ketiga, silsilah
yang diterima oleh Tuanku Ali
Bakri di Sikabu Ulakan. Keempat;
silsilah oleh Tuanku Kuning Zubir
yang ditulis dalam Kitabnya yang
berjudul Syifa’ al-Qulub. Thoriqoh
ini berkembang di Minangkabau
dan sekitarnya. Untuk
mendukung ke1embagaan
Thoriqoh, kaum Syathariyah
membuat lembaga formal berupa
organisasi sosial keagamaan
Jamaah Syathariyah Sumatera
Barat, dengan cabang dan
ranting-ranting di seluruh alam
Minangkabau, bahkan di
propinsi-tetangga Riau dan
jambi. Bukti kuat dan kokohnya
kelembagaan Thoriqoh
Syathariyah dapat ditemukan
wujudnya pada kegiatan ziarah
bersama ke makam Syekh
Burhan al-Din Ulakan.
Sementara Thoriqoh
Naqsyabandiyah masuk ke
Nusantara dan Minangkabau
pada tahun 1850. Thoriqoh
Naqsyabandiyah sudah masuk ke
Minangkabau sejak abad ke 17,
pintu masuknya melalui daerah
Pesisir Pariaman, kemudian terus
ke Agam dan Limapuluh kota.
Thoriqoh Naqsyabandiyah
diperkenalkan ke wilayah ini
pada paruh pertama abad
ketujuh belas oleh Jamal al-Din,
seorang Minangkabau yang
mula-mula belajar di Pasai
sebelum dia melanjukan ke Bayt
al-Faqih, Aden, Haramain, Mesir
dan India. Naqsyabandiyah
merupakan salah satu Thoriqoh
sufi yang paling luas
penyebarannya, dan terdapat
banyak di wilayah Asia Muslim
serta Turki, Bosnia-Herzegovina,
dan wilayah Volga Ural. Bermula
di Bukhara pada akhir abad
ke-14, Naqsyabandiyah mulai
menyebar ke daerah-daerah
tetangga dunia Muslim dalam
waktu seratus tahun.
Perluasannya mendapat
dorongan baru dengan
munculnya cabang Mujaddidiyah,
dinamai menurut nama Syekh
Ahmad Sirhindi Mujaddidi Alfi
Tsani (Pembaru Milenium kedua,
w. 1624). Pada akhir abad ke-18,
nama ini hampir sinonim dengan
Thoriqoh tersebut di seluruh Asia
Selatan, wilayah Utsmaniyah, dan
sebagian besar Asia Tengah. Ciri
yang menonjol dari Thoriqoh
Naqsyabandiyah adalah
diikutinya syari’at secara ketat,
keseriusan dalam beribadah
menyebabkan penolakan
terhadap musik dan tari, serta
lebih mengutamakan berdzikir
dalam hati (Sirri). Penyebaran
Thoriqoh Naqsyabandiyah
Khalidiyah ditunjang oleh ulama
ulama Minangkabau yang
menuntut ilmu di Mekah dan
Medinah, mereka mendapat
bai’ah dari Syekh Jabal Qubays di
Mekah dan Syekh Muhammad
Ridwan di Medinah. Misalnya,
Syekh Abdurrahman di Batu
Hampar Payakumbuh (w. 1899
M), Syekh Ibrahim Kumpulan
Lubuk Sikaping, Syekh Khatib Ali
Padang (w. 1936), dan Syekh
Muhammad Sai’d Bonjol. Mereka
adalah ulama besar dan
berpengaruh pada zamannya
serta mempunyai anak murid
mencapai ratusan ribu, yang
kemudian turut menyebarkan
Thoriqoh ini ke daerah asal
masing masing Di Jawa Tengah
Thoriqoh Naqsabandiyah
Kholidiyyah disebarkan oleh KH.
Abdul Hadi Girikusumo Mranggen
yang kemudian menyebar ke
Popongan Klaten, KH. Arwani
Amin Kudus, KH. Abdullah Salam
Kajen Margoyoso Pati, KH. Hafidh
Rembang. Dari dari tangan
mereka yang penuh berkah,
pengikut Thoriqoh ini
berkembang menjadi ratusan
ribu. Ajaran dasar Thoriqoh
Naqsyabandiyah pada umumnya
mengacu kepada empat aspek
pokok yaitu: syari’at, thariqat,
hakikat dan ma’rifat. Ajaran
Thoriqoh Naqsyabandiyah ini
pada prinsipnya adalah cara-cara
atau jalan yang harus dilakukan
oleh seseorang yang ingin
merasakan nikmatnya dekat
dengan Allah. Ajaran yang
nampak ke permukaan dan
memiliki tata aturan adalah
khalwat atau suluk. Khalwat ialah
mengasingkan diri dari
keramaian atau ke tempat yang
terpencil, guna melakukan zikir
dibawah bimbingan seorang
Syekh atau khalifahnya, selama
waktu 10 hari atau 20 hari dan
sempurnanya adalah 40 hari.
Tata cara khalwat ditentukan
oleh syekh antara lain; tidak
boleh makan daging, ini berlaku
setelah melewati masa suluk 20
hari. Begitu juga dilarang bergaul
dengan suami atau istri; makan
dan minumnya diatur
sedemikian rupa, kalau mungkin
sesedikit mungkin. Waktu dan
semua pikirannya sepenuhnya
diarahkan untuk berpikir yang
telah ditentukan oleh syekh atau
khalifah..
Thariqat Ahmadiyah didirikan
oleh Ahmad ibn ‘Aly (al-
Husainy al-Badawy). Diantara
nama-nama gelaran yang telah
diberikan kepada beliau ialah
Syihabuddin, al-Aqthab, Abu al-
Fityah, Syaikh al-‘Arab dan al-
Quthab an-Nabawy. Malah, asy-
Syaikh Ahmad al-Badawy telah
diberikan nama gelar (laqab)
yang banyak, sampai dua puluh
sembilan nama. Al-Ghautha al-
Kabir, al-Quthab al-Syahir,
Shahibul-Barakat wal-Karamat,
asy-Syaikh Ahmad al-Badawy
adalah seorang lelaki keturunan
Rasulullah SallAllahu ‘alaihi wa
sallam, melalui Sayidina al-Husain.
Sholawat Badawiyah sughro dan
Kubro, adalah sholawat yang
amat dikenal masarakat
Indonesia, dinisbatkan kepada
waliyullah Sayid Ahmad Badawi
ini, akan tetapi Tarekat
badawiyah sendiri tidak
berkembang secara luas di
indonesia khususnya di Jawa
Abul Hasan Ali asy-Sadzili,
merupakan tokoh Thoriqoh
Sadziliyah yang tidak
meninggalkan karya tulis di
bidang tasawuf, begitu juga
muridnya, Abul Abbas al-Mursi,
kecuali hanya ajaran lisan
tasawuf, Doa, dan hizib. Ketika
ditanya akan hal itu, ia
menegaskan :”karyaku adalah
murid muridku”, Asadzili
mempunyai murid yang amat
banyak dan kebanyakan mereka
adalah ulama ulama masyhur
pada zamannya, dan bahkan
dikenal dan dibaca karya tulisnya
hingga hari ini. Ibn Atha’illah as-
Sukandari adalah orang yang
pertama menghimpun ajaran-
ajaran, pesan-pesan, doa dan
biografi keduanya, sehingga
kasanah Thoriqoh Sadziliyah
tetap terpelihara. Ibn Atha’illah
juga orang yang pertama kali
menyusun karya paripurna
tentang aturan-aturan Thoriqoh
Sadziliah, pokok-pokoknya,
prinsip-prinsipnya, yang menjadi
rujukan bagi angkatan-angkatan
setelahnya. Sebagai ajaran,
Thoriqoh ini dipengaruhi oleh al-
Ghazali dan al-Makki. Salah satu
perkataan as-Sadzili kepada
murid-muridnya: “Jika kalian
mengajukan suatu
permohonanan kepada Allah,
maka sampaikanlah lewat Abu
Hamid al-Ghazali”. Perkataan
yang lainnya: “Kitab Ihya’ Ulum
ad-Din, karya al-Ghozali, mewarisi
anda ilmu. Sementara Qut al-
Qulub, karya al-Makki, mewarisi
anda cahaya.” Selain kedua kitab
tersebut, al-Muhasibi, Khatam al-
Auliya, karya Hakim at-Tarmidzi,
Al-Mawaqif wa al-Mukhatabah
karya An-Niffari, Asy-Syifa karya
Qadhi ‘Iyad, Ar-Risalah karya al-
Qusyairi, Al-Muharrar al-Wajiz
karya Ibn Atah’illah. Thoriqoh
Sadzaliah berkembang pesat di
Jawa, tercatat Ponpes
Mangkuyudan Solo, Kyai Umar ,
Simbah Kyai Dalhar Watucongol,
Simbah Kyai Abdul malik
Kedongparo Purwokerto, KH
Muhaiminan Parakan, KH. Abdul
Jalil Tulung Agung. KH . Habib
Lutfi Bin Yahya,
Pekalongan .Simbah KH.M.Idris,
kacangan Boyolali, adalah
pemuka pemuka Sadzaliah yang
telah membaiat dan membina
ratusan ribu bahkan jutaan
murid Sadziliah.
Thoriqoh Qodiriyah dinisbahkan
kepada Syekh Abdul Qodir Jaelani
(wafat 561 H/1166M) yang
bernama lengkap Muhy al-Din
Abu Muhammad Abdul Qodir ibn
Abi Shalih Zango Dost al-Jaelani.
Lahir di Jilan tahun 470 H/1077
M dan wafat di Baghdad pada
561 H/1166 M. Dalam usia 8
tahun ia sudah meninggalkan
Jilan menuju Baghdad pada
tahun 488 H/1095 M. Riwayat
hidup dan keutamaan akhlak
(Manaqib) Syech Abdul Qodir
Jaelani ini, dikenal luas oleh
masarakat Indonesia khususnya
di Jawa Tengah dan Jawa Timur,
dan dibaca dalam acara-acara
tertentu guna tabarruk dan
tawassul kepada Syekh Abdul
Qodir. Thoriqoh Qodiriyah terus
berkembang dan berpusat di
Iraq dan Syria yang diikuti oleh
jutaan umat yang tersebar di
Yaman, Turki, Mesir, India, Afrika
dan Asia. Namun meski sudah
berkembang sejak abad ke-13,
Thoriqoh ini baru terkenal di
dunia pada abad ke 15 M. Di
India misalnya baru berkembang
setelah Muhammad Ghawsh (w
1517 M) juga mengaku
keturunan Syekh Abdul Qodir
Jaelani. Di Turki oleh Ismail Rumi
(w 1041 H/1631 M) yang diberi
gelar (mursyid kedua).
Sedangkan di Makkah, Thoriqoh
Qodiriyah sudah berdiri sejak
1180 H/1669 M. Thoriqoh
Qodiriyah ini dikenal luwes. Yaitu
bila murid sudah mencapai
derajat syekh, maka murid tidak
mempunyai suatu keharusan
untuk terus mengikuti Thoriqoh
gurunya. Bahkan dia berhak
melakukan modifikasi Thoriqoh
yang lain ke dalam Thoriqohnya.
Hal itu seperti tampak pada
ungkapan Syekh Abdul Qadir
Jaelani sendiri,”Bahwa murid
yang sudah mencapai derajat
gurunya, maka dia jadi mandiri
sebagai syekh dan Allah-lah yang
menjadi walinya untuk
seterusnya.” Seperti halnya
Thoriqoh di Timur Tengah.
Sejarah Thoriqoh Qodiriyah di
Indonesia juga berasal dari
Makkah al-Mukarromah.
Thoriqoh Qodiriyah menyebar ke
Indonesia pada abad ke-16,
khususnya di seluruh Jawa,
seperti di Pesantren
Pegentongan Bogor Jawa Barat,
Suryalaya Tasikmalaya Jawa
Barat, Mranggen Jawa Tengah,
Rejoso Jombang Jawa Timur dan
Pesantren Tebuireng Jombang
Jawa Timur. Syekh Abdul Karim
dari Banten adalah murid
kesayangan Syekh Khatib Sambas
yang bermukim di Makkah,
merupakan ulama paling berjasa
dalam penyebaran Thoriqoh
Qodiriyah. Murid-murid Syekh
Sambas yang berasal dari Jawa
dan Madura, setelah pulang ke
Indonesia menjadi penyebar
Thoriqoh Qodiriyah tersebut.
Di Jawa Tengah Thoriqoh
Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah
muncul dan berkembang antara
lain dari Mbah Ibrahim
Brumbung Mranggen diturunkan
kepada antara lain KH. Muslih
pendiri Ponpes
Futuhiyyah ,Mranggen. Dari Kyai
Muslih ini lahir murid-murid
Thoriqoh yang banyak. Dan dari
tangan mereka berkembang
menjadi ratusan ribu pengikut.
Demikian pula halnya Simbah
Kyai Siradj Solo yang
mengembangkan Thoriqoh ini ke
berbagai tempat melalui anak
muridnya yang tersebar ke
pelosok Jawa Tengah hingga
mencapai puluhan ribu pengikut.
Sementara di Jawa Timur,
Thoriqoh ini dikembangkan oleh
KH. Musta’in Romli Rejoso
Jombang dan Simbah Kyai
Utsman yang kemudian
dilanjutnya putra-putranya
diantaranya KH. Asrori yang juga
mempunyai murid ratusan ribu.
Di Jawa Barat tepatnya di Ponpes
Suryalaya Tasikmalaya juga turut
andil membesarkan Thoriqoh ini
sejak mulai zaman Abah Sepuh
hingga Abah Anom dan murid-
muridnya yang tersebar di
berbagai penjuru Jawa Barat.
Thoriqoh Alawiyyah berbeda
dengan Thoriqoh sufi lain pada
umumnya. Perbedaan itu,
misalnya, terletak dari praktiknya
yang tidak menekankan segi-segi
riyadlah (olah ruhani) yang berat,
melainkan lebih menekankan
pada amal, akhlak, dan beberapa
wirid serta dzikir ringan.
Sehingga wirid dan dzikir ini
dapat dengan mudah
dipraktikkan oleh siapa saja
meski tanpa dibimbing oleh
seorang mursyid. Ada dua wirid
yang diajarkannya, yakni Wirid
Al-Lathif dan Ratib Al-
Haddad.serta beberapa ratib
lainnya seperti Ratib Al Attas dan
Alaydrus juga dapat dikatakan,
bahwa Thoriqoh ini merupakan
jalan tengah antara Thoriqoh
Syadziliyah (yang menekankan
olah hati) dan batiniah) dan
Thoriqoh Al-Ghazaliyah (yang
menekankan olah fisik). Thoriqoh
ini berasal dari Hadhramaut,
Yaman Selatan dan tersebar
hingga ke berbagai negara,
seperti Afrika, India, dan Asia
Tenggara (termasuk Indonesia).
Thoriqoh ini didirikan oleh Imam
Ahmad bin Isa al-
Muhajir–lengkapnya Imam
Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad
al-Muhajir—seorang tokoh sufi
terkemuka asal Hadhramat. Al
Imam Faqihil Muqaddam
Muhammad bin Ali Baalwi, juga
merupakan tokoh kunci
Thoriqoh ini. Dalam
perkembangannya kemudian,
Thoriqoh Alawiyyah dikenal juga
dengan Thoriqoh Haddadiyah,
yang dinisbatkan kepada Habib
Abdullah al-Haddad, Attasiyah
yang dinisbatkan kepada Habib
Umar bin Abdulrahman Al Attas,
serta Idrusiyah yang dinisbatkan
kepada Habib Abdullah bin Abi
Bakar Alaydrus, selaku generasi
penerusnya. Sementara nama
‘Alawiyyin berasal dari Imam
Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad
al-Muhajir. Thoriqoh Alawiyyah,
secara umum, adalah Thoriqoh
yang dikaitkan dengan kaum
Alawiyyin atau lebih dikenal
sebagai saadah atau kaum sayyid
keturunan Nabi Muhammad
SAW–yang merupakan lapisan
paling atas dalam strata
masyarakat Hadhrami. Karena itu,
pada masa-masa awal Thoriqoh
ini didirikan, pengikut Thoriqoh
Alawiyyah kebanyakan dari kaum
sayyid di Hadhramaut, atau Ba
Alawi.Thoriqoh ini dikenal pula
sebagai Toriqotul abak wal
ajdad, karena mata rantai
silisilahnya turun temurun dari
kakek,ayah, ke anak anak
mereka, dan setelah itu diikuti
oleh berbagai lapisan masyarakat
muslim lain dari non-Hadhrami.
Di Purworejo dan sekitarnya
Thoriqoh ini berkembang pesat,
diikuti bukan hanya oleh para
saadah melainkan juga
masarakat non saadah , Sayid
Dahlan Baabud, tercatat sebagai
pengembang Thoriqoh ini, yang
sekarang dilanjutkan oleh anak
cucunya.
Umumnya, nama sebuah
Thoriqoh diambil dari nama sang
pendiri Thoriqoh bersangkutan,
seperti Qadiriyah dari Syekh
Abdul Qadir Al-Jailani atau
Naqsyabandiyah dari Baha Uddin
Naqsyaband. Tapi Thoriqoh
Khalwatiyah justru diambil dari
kata “khalwat”, yang
artinya menyendiri untuk
merenung. Diambilnya nama ini
dikarenakan seringnya Syekh
Muhammad Al-Khalwati (w. 717
H), pendiri Thoriqoh Khalwatiyah,
melakukan khalwat di tempat-
tempat sepi. Secara
“nasabiyah”, Thoriqoh
Khalwatiyah merupakan cabang
dari Thoriqoh Az-Zahidiyah,
cabang dari Al-Abhariyah, dan
cabang dari As-Suhrawardiyah,
yang didirikan oleh Syekh
Syihabuddin Abi Hafs Umar as-
Suhrawardi al-Baghdadi
(539-632 H). Thoriqoh
Khalwatiyah berkembang secara
luas di Mesir. Ia dibawa oleh
Musthafa al-Bakri (lengkapnya
Musthafa bin Kamaluddin bin Ali
al-Bakri as-Shiddiqi), seorang
penyair sufi asal Damaskus,
Syiria. Ia mengambil Thoriqoh
tersebut dari gurunya yang
bernama Syekh Abdul Latif bin
Syekh Husamuddin al-Halabi.
Karena pesatnya perkembangan
Thoriqoh ini di Mesir, tak heran
jika Musthafa al-Bakri dianggap
sebagai pemikir Khalwatiyah oleh
para pengikutnya. Karena selain
aktif menyebarkan ajaran
Khalwatiyah ia juga banyak
melahirkan karya sastra sufistik.
Diantara karyanya yang paling
terkenal adalah Tasliyat Al-Ahzan
(Pelipur Duka).
Thoriqoh Syattariyah adalah
aliran Thoriqoh yang pertama
kali muncul di India pada abad
ke 15. Thoriqoh ini dinisbahkan
kepada tokoh yang
mempopulerkan dan berjasa
mengembangkannya, Abdullah
asy-Syattar. Awalnya Thoriqoh ini
lebih dikenal di Iran dan
Transoksania (Asia Tengah)
dengan nama Isyqiyah.
Sedangkan di wilayah Turki
Usmani, Thoriqoh ini disebut
Bistamiyah. Kedua nama ini
diturunkan dari nama Abu Yazid
al-Isyqi, yang dianggap sebagai
tokoh utamanya. Akan tetapi
dalam perkembangan
selanjutnya Thoriqoh Syattariyah
tidak menganggap dirinya
sebagai cabang dari persatuan
sufi mana pun. Thoriqoh ini
dianggap sebagai suatu
Thoriqoh tersendiri yang
memiliki karakteristik-
karakteristik tersendiri dalam
keyakinan dan praktik.
Perkembangan mistik Thoriqoh
ini ditujukan untuk
mengembangkan suatu
pandangan yang
membangkitkan kesadaran akan
Allah SWT di dalam hati, tetapi
tidak harus melalui tahap fana’.
Penganut Thoriqoh Syattariyah
percaya bahwa jalan menuju
Allah itu sebanyak gerak napas
makhluk. Akan tetapi, jalan yang
paling utama menurut Thoriqoh
ini adalah jalan yang ditempuh
oleh kaum Akhyar, Abrar, dan
Syattar. Seorang salik sebelum
sampai pada tingkatan Syattar,
terlebih dahulu harus mencapai
kesempurnaan pada tingkat
Akhyar (orang-orang terpilih)
dan Abrar (orang-orang terbaik)
serta menguasai rahasia-rahasia
dzikir. Untuk itu ada sepuluh
aturan yang harus dilalui untuk
mencapai tujuan Thoriqoh ini,
yaitu taubat, zuhud, tawakkal,
qana’ah, uzlah, muraqabah,
sabar, ridla, dzikir, dan
musyahadah.
Thoriqoh Tijaniyah didirikan oleh
Abul Abbas Ahmad bin
Muhammad bin al-Mukhtar at-
Tijani (1737-1815), salah
seorang tokoh dari gerakan
“Neosufisme”. Ciri dari gerakan
ini ialah karena penolakannya
terhadap sisi eksatik dan
metafisis sufisme dan lebih
menyukai pengalaman secara
ketat ketentuan-ketentuan
syari’at dan berupaya sekuat
tenaga untuk menyatu dengan
ruh Nabi Muhammad SAW
sebagai ganti untuk menyatu
dengan Tuhan. At-Tijani
dilahirkan pada tahun
1150/1737 di ‘Ain Madi, bagian
selatan Aljazair. Sejak umur tujuh
tahun dia sudah dapat
menghafal al-Quran dan giat
mempelajari ilmu-ilmu keislaman
lain, sehingga pada usianya yang
masih muda dia sudah menjadi
guru. Dia mulai bergaul dengan
para sufi pada usia 21 tahun.
Pada tahun 1176, dia
melanjutkan belajar ke Abyad
untuk beberapa tahun. Setelah
itu, dia kembali ke tanah
kelahirannya. Pada tahun 1181,
dia meneruskan pengembaraan
intelektualnya ke Tilimsan selama
lima tahun. Di Indonesia,
Tijaniyah ditentang keras oleh
Thoriqoh-Thoriqoh lain. Gugatan
keras dari kalangan ulama
Thoriqoh itu dipicu oleh
pernyataan bahwa para pengikut
Thoriqoh Tijaniyah beserta
keturunannya sampai tujuh
generasi akan diperlakukan
secara khusus pada hari kiamat,
dan bahwa pahala yang
diperoleh dari pembacaan
Shalawat Fatih, sama dengan
membaca seluruh al-Quran
sebanyak 1000 kali. Lebih dari
itu, para pengikut Thoriqoh
Tijaniyah diminta untuk
melepaskan afiliasinya dengan
para guru Thoriqoh lain, Meski
demikian, Thoriqoh ini terus
berkembang, utamanya di
Buntet- Cirebon dan seputar
Garut (Jawa Barat), dan Jati
barang brebes, Sjekh Ali
Basalamah, dan kemudian
dilanjutkan putranya, Sjekh
Muhammad Basalamah, adalah
muqaddam Tijaniah di Jatibarang
yang pengajian rutinnya, dihadiri
oleh puluhan ribu ummat Islam
pengikut Tijaniah. Demikian pula
Madura dan ujung Timur pulau
Jawa, tercatat juga, sebagai
pusat peredarannya.
Penentangan terhadap Thoriqoh
ini, mereda setelah, Jam’iyyah
Ahlith-Thariqah An-Nahdliyyah
menetapkan keputusan,
Thoriqoh ini bukanlah Thoriqoh
sesat, karena amalan-amalannya
sesuai dan tidak bertentangan
dengan ajaran Islam. Keputusan
itu diambil setelah para ulama
ahli Thoriqoh memeriksa wirid
dan wadzifah Thoriqoh ini.
Thoriqah Sammaniyah didirikan
oleh Syekh Muhammad Samman
yang bernama asli Muhammad
bin Abd al-Karim al-Samman al-
Madani al-Qadiri al-Quraisyi dan
lebih dikenal dengan panggilan
Samman. Beliau lahir di Madinah
1132 H/1718 M dan berasal dari
keluarga suku Quraisy. Semula ia
belajar Thoriqoh Khalwatiyyah di
Damaskus, lama kelamaan ia
mulai membuka pengajian yang
berisi teknik dzikir, wirid dan
ajaran teosofi lainnya. Ia
menyusun cara pendekatan diri
dengan Allah yang akhirnya
disebut sebagai Thoriqoh
Sammaniyah. Sehingga ada yang
mengatakan bahwa Thoriqoh
Sammaniyah adalah cabang dari
Khalwatiyyah. Di Indonesia,
Thoriqoh ini berkembang di
Sumatera, Kalimantan dan Jawa.
Sammaniyah masuk ke Indonesia
pada penghujung abad 18 yang
banyak mendapatkan pengikut
karena popularitas Imam
Samman. Sehingga manaqib
Syekh Samman juga sering
dibaca berikut dzikir Ratib
Samman yang dibaca dengan
gerakan tertentu. Di Palembang
misalnya ada tiga ulama
Thoriqoh yang pernah berguru
langsung pada Syekh Samman, ia
adalah Syekh Abd Shamad, Syekh
Muhammad Muhyiddin bin Syekh
Syihabuddin dan Syekh Kemas
Muhammad bin Ahmad. Di Aceh
juga terkenal apa yang disebut
Ratib Samman yang selalu dibaca
sebagai dzikir

Tinggalkan komentar

Filed under Thoriqoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s